Home » Artikel Internet Cerdas » 30 Artikel Favorit » Internet For Students, Internet For Young People

Internet For Students, Internet For Young People

Jun
06
2012
by : Team Internet Cerdas . Posted in : 30 Artikel Favorit, Artikel Internet Cerdas

 Internet For Students, Internet For Young People

 (oleh : viny alfiyah)

Siapakah yang paling banyak mengakses Internet di Indonesia? Siapakah yang paling sering update status di jejaring sosial? Siapakah yang menjadi generasi calon penerus bangsa? Siapakah harapan Ibu Pertiwi akan kejayaan Indonesia? Siapakah yang digadang – gadang untuk menjadi pemimpin di masa depan? Satu jawaban yang pasti akan keluar dari mulut kita. Kaum muda.

Kaum muda yang rata – rata berstatus pelajar merupakan populasi terbesar yang dimiliki oleh Indonesia. Menurut sensus penduduk tahun 2005 yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), proporsi penduduk usia 15-39 tahun mencapai 43% dari jumlah penduduk. Dalam suatu negara, pemuda yang merupakan individu yang bila dilihat secara fisik sedang mengalami perkembangan dan secara psikis sedang mengalami perkembangan emosional, sehingga pemuda merupakan sumber daya manusia pembangunan, baik pada saat ini maupun di masa yang akan datang, sebagai calon generasi penerus yang akan menggantikan generasi sebelumnya. Maka penting untuk memberikan pemahaman dan pengetahuan yang benar dan tepat pada kaum muda.

Internet, yang merupakan kependekan dari Interconnected Network yang menurut Wikipedia.org diciptakan pertama kali oleh Departemen Pertahanan Amerika Serikat melalui proyek ARPA yang dikenal dengan ARPANET. Proyek yang ketika didemonstrasikan memakai software UNIX itu kini telah menghubungkan (baca:connecting), memudahkan, dan memberikan seabrek manfaat lainnya bagi kita semua.

Penelitian yang dilakukan Yahoo bersama TNS pada tahun 2010 kepada responden pengguna internet menunjukkan bahwa 64% pengguna internet di Indonesia adalah pada kelompok usia 15-29 tahun sedangkan kelompok usia 30-34 tahun sebanyak 16%. Penelitian ini mengklaim bahwa 47% pengguna internet mengunjungi situs berita online dan 58% mengunjungi jejaring sosial. Karakterisitik responden yang berpartisipasi yang pada kelompok usia 15-30 tahun sebesar 59,8% sedangkan yang berusia 31-35 tahun sebesar 16,4% yang secara umum mempunyai pola yang sama dengan penelitian yang pernah dilakukan oleh Yahoo-TNS pada tahun 2009 dan dari 10 responden, 8 diantaranya berjenis kelamin laki – laki.

Perkembangan dunia teknologi informasi dalam hal ini media internet telah menjadi media yang paling berkembang dengan pesat. Saat ini, media internet menjadi pilihan utama dalam proses pencarian informasi apapun pada populasi usia muda. Menurut Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia sampai dengan akhir tahun 2007 sebesar lebih dari 25 juta. Hal ini meningkat pesat dari 512 ribu pada tahun 1998. Bahkan pada tahun 2010 diperkirakan pengguna internet di Indonesia mencapai 45 juta pengguna yang mengakses internet melalui komputer dan ponsel. Iwan Dermawan, Manager Brand Bundling Telkomsel, mengatakan pertumbuhan pengguna bundling modem cenderung stabil sebab saat ini jumlah pengakses broadband dari smartphone lebih banyak daripada pengguna modem dan jumlah pengguna Internet di Indonesia secara total seharusnya lebih besar dari 58,7 juta pengguna.

Di abad 21 ini, kebutuhan individu akan informasi dan hiburan semakin meningkat dan menuntut penyedia informasi untuk menyediakan info ‘secepat’ mungkin dan media massa seperti koran, majalah, radio atau televisi belum dapat memenuhi rasa ingin tahu mereka sehingga melarikannya pada suatu media yang bernama Internet. Jika kebutuhan akan informasi dan hiburan melalui Internet meningkat, maka kebutuhan akan fasilitas untuk mengakses Internet yang murah dan berkecepatan tinggi pun semakin melonjak naik., karena dalam Internet tidak ada perbedaan antara kota – kota besar maupun daerah kecil. Kebutuhan akan informasi dan hiburan ini pula yang membuat para penyedia jasa layanan Internet berlomba – lomba untuk ‘merangkul’ para calon pengguna Internet dengan cara biaya akses yang murah, kecepatan akses yang tinggi, dan berbagai fasilitas lainnya.

Penyedia layanan jasa Internet biasanya menawarkan 2 pilihan pada pengguna. Pilihan pertama adalaah dengan menggunakan sistem modem LAN (Local Area Network) yang menggunakan media telepon. Pilihan kedua dan sepertinya masih menjadi primadona pengguna dari kalangan pelajar yang memakai modem (modulator demodulator) GPRS wireless/tanpa kabel karena sifatnya yang praktis sehingga dapat dipakai di mana saja. Jika dipadu dengan laptop atau notebook, pengguna dapat mengakses Internet dari mana saja dan kapan saja karena untuk Indonesia penyedia layanan Wi-Fi masih mencakup tem – tempat umum seperti sekolah, kafe, perpustakaan umum, dan lain – lain. Modem GPRS ini berbentuk layaknya media penyimpanan data flashdisk yang sangat kompatibel dengan perangkat komputer yang banyak digunakan masyarakat Indonesia. Modem wireless ini biasanya dijual dengan cara bundling) dengan kartu CDMA yang sudah dipaketkan dalam tempat yang sama. Selain itu modem wireless ini tidak terikat dengan tempat seperti pengguna jenis modem LAN. Inilah yang menjadi faktor utama mengapa pengguna yang berstatus pelajar lebih suka menggunakan modem tanpa kabel daripada modem tipe LAN. Dilihat dari aktivitas pelajar yang terkadang banyak kegiatan di luar rumah yang membutuhkan akses Internet pun sangat ditunjang oleh keberadaan modem USB ini.

Dalam hal kecepatan akses, modem tipe LAN memang memiliki daya akses yang lebih cepat daripada modem GPRS, namun hal itu tidak menyurutkan para pengguna Internet modem GPRS. Malah di tahun 2012 ini, salah satu penyedia jasa layanan Internet, Telkomsel menargetkan pencapaian 100 ‘broadband city’ dari 45 broadband city di tahun 2011 dan kenaikan pelanggan sebanyak 35% perkuartal.

Kecenderungan akses masyarakat Indonesia terbukti dengan adanya Digital Natives, seperti dilansir di VIVAnews.com merupakan suatu kelompok pengguna Internet yang membentuk tren yang terjadi di dunia maya. Selain jumlah populasinya merupakan yang terbesar, anggota kelompok pengguna Internet ini berusia mulai 25 sampai 30 tahun merupakan kelompok pengguna yang paling berpengaruh. Russel Conrad, Regional Director South East Asia Effective Measure menyatakan bahwa Digital Natives merupakan kelompok yang mengarahkan para generasi tua dan generasi yang lebih muda saat akan membeli barang – barang dan jasa, sering melakukan uji coba dan menyampaikannya di komunitas online. Pengguna Internet di Indonesia yang merupakan anggota dari kalangan Digital Natives pada umumnya sering berkunjung ke situs portal berita atau hiburan.

Dalam hal jejaring sosial, Indonesia tidak kalah banyak pengguna dari negara lain, untuk situs jejaring sosial Facebook saja, pada bulan Februari 2012 pengguna facebook di Indonesia saat ini telah mencapai 43,06 juta, terbesar ke-3 di dunia. Data ini merupakan data harian pada 4 Februari 2012 yang terus di-update setiap hari oleh situs socialbakers.com. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia saat ini yang sekitar 243 juta, berarti angka penetrasi terhadap populasi sebesar 17,72%. Artinya 1 dari 6 rakyat Indonesia, mempunyai sebuah akun di Facebook karena kadang seseorang memiliki beberapa akun di suatu jejaring sosial.

Sama halnya dengan cyber crime (kejahatan dunia maya). Menurut perusahaan keamanan Symantec dalam Internet Security Threat Report volume 17, Indonesia menempati peringkat 10 sebagai negara dengan aktivitas kejahatan cyber terbanyak sepanjang tahun 2011. Indonesia menyumbang 2,4% kejahatan cyber di dunia. Angka ini naik 1,7% dibanding tahun 2010 lalu di mana Indonesia menempati peringkat 28.

Tak ada gading yang tak retak, begitu bunyi salah satu pepatah di negeri kita. Internet pun tetap terjerat oleh hukum alam yang menyatakan bahwa tiada sesuatu pun yang sempurna kecuali Tuhan semata. Berikut beberapa efek Internet bagi pelajar :

a) Pelajar mengetahui perkembangan IPTEK dan mampu menggunakannya,

b) Sarana komunikasi,

c) Memperluas wawasan,

d) Tambahan pengetahuan pelajaran di sekolah,

e) Pornografi,

f) Ketergantungan game online,

g) Ketergantungan jejaring sosial,

h) Kejahatan online (cyber crime).

Sebagai alah satu contoh efek Internet ada teman penulis yang berkata bahwa zaman sekarang mau mengerjakan apa pun harus update status dulu. Perkataannya memang terbukti kebenarnnya saat ada teman penulis lainnya yang sedang sakit perut, tentu saja penulis sarankan untuk minum obat sakit perut atau dokter, kebetulan penuli sedang online dan beberapa detik kemudian penuli melihat ada status baru di akun jejaring sosial penulis yang berisikan “duh…., cakit perut nich… :( “. Penulis heran, mengapa ada orang yang sakit malah menulis status dulu di jejaring sosial, bukannya minum obat atau pergi ke dokter? Penulis pun jadi bertanya-tanya apakah ada orang lain yang juga melakukan hal yang sama seperti rekan penulis? Bagaimana (meski tidak diharapkan) jika sakitnya parah atau sedang dalam keadaan darurat yang membutuhkan kecepatan tindakan dimana waktu dalah sesuatu yang harus didahului, akankah ia masih menyempatkan diri untuk sekedar meng-update atau berkicau di jejaring sosial?

Sulit memang untuk mengubah perilaku dalam mengakses Internet yang sembarangan menjadi bijaksana dan cerdas, tetapi dengan kemauan yang kuat perilaku itu dapat diubah. Para pelajar yang terjebak dalam perilaku akses Internet yang bebas tidak dapat disalahkan 100%. Para vendor penyedia jasa Internet seharusnya melakukan suatu terobosan untuk menyelamatkan generasi muda Indonesia karena untuk mengakses Internet pengguna membutuhkan penyedia jasa layanan Internet bukan?

Sekarang ini, banyak provider berlomba-lomba untuk menggaet konsumen dengan cara mengiklankan bahwa biaya akses dengan produk merekalah yang termurah tapi banyak fasilitas. Apalagi dengan sistem bundling yang laris manis di masyarakat luas, para vendor seakan tidak peduli dengan keamanan mengakses Internet dengan cerdas.

Perilaku mengakses Internet dengan minim filter secara tidak langsung membuka kesempatan para pelajar pengguna Internet untuk membuka situs – situs yang berisi konten berbau pornografi, pornoaksi, atau kekerasan yang akan berakibat buruk bagi seorang individu secara fisik maupun secara psikis. Jika kita memakai jasa layanan Internet dengan modem tipe LAN memang orang tua dapat mencegah laptop, notebook, dan PC yang ada dalam rumah misalnya untuk mengakses hal – hal yang negatif dengan menginstruksikan operator provider untuk memasang firewall. Tapi apa jadinya jika kita menggunakan modem tanpa kabel? Meski penyedia situs mencantumkan peringatan mengenai isi konten yang terdapat dalam suatu blog, namun akan lebih baik jika tersedia modem GPRS yang dirancang khusus untuk pelajar, dimana provider atau penyedia jasa layanan Internet melengkapi produknya dengan fasilitas kprogram khusus pendeteksi situs yang sudah terdapat dalam modem. Lagipula, banyak sekali orang tua di Indonesia yang tidak dapat mengawasi secara langsung anak – anaknya dalam mengakses Internet.

Kurangnya pengawasan ini merupakan akibat dari kepercayaan orang tua yang berlebihan sehingga sama sekali tidak melakukan pengawasan atau ketidakpedulian orang tua tentang perilaku anak – anaknya yang masih belia. Seringkali situasi seperti ini disalahgunakan oleh sang anak, kepercayaan yang diberikan orang tua tidaklah dijaga dengan baik, ia malah mengakses Internet sebebas – bebasnya dan seluas – luasnya yang nanti akan menjerumuskannya ke palung penderitaan.

Memang benar tidak semua pelajar memiliki pandangan bebas dengan internet, tetapi akan baik sekali jika para vendor melakukan terobosan pengadaan program khusus modem untuk pelajar tersebut. Adanya fitur khusus tambahan merupakan tindakan pencegahan dan akan lebih mengarahkan pelajar ke situs-situs sex education (pendidikan seksual) seperti kesehatan reproduksi dan macam-macam penyakit seksual.

Jika suatu saat nanti modem untuk pelajar dengan program filter tambahan terwujud, hal tersebut dapat meminimalisir efek negatif Internet terhadap pelajar dan membuat orang tua lebih tenang untuk memberikan modem sebagai pendukung dalam mencari ilmu pengetahuan dan memercayai anak – anaknya dalam mengakses Internet. Namun, bukan berarti orang tua lepas tangan pada perilaku akses Internet anaknya, orang tua tetap harus mengawasi perilaku dan situs – situs yang diakses oleh anak – anaknya.

Para penyedia jasa layanan Internet, siapa pun pemiliknya, cobalah peduli pada generasi muda Indonesia, ingatlah bahwa setiap amal baik pasti akan dibalas oleh Tuhan dengan lebih baik. Generasi muda Indonesia, marilah kita galakkan perilaku mengakses Internet dengan cerdas dan bijaksana!

Ekarina. 2011. “Pelanggan Bundling Modem Operator Bertumbuh”. http://www.indonesiafinancetoday.com/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Firman, Muhammad. 2012. “Usia Dominan Pengguna Internet di Indonesia”. http://www.vivanews.com/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Hindarto, Stefanus Yugo. 2010. “Inilah 10 Negara Pengakses Facebook Terbesar”. http://www.okezone.com/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Karimuddin, Amir. 2011. “Statistik: 40 Juta Pelanggan Telkomsel Menggunakan Fasilitas Internet”. http://dailysocial.net/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Nurfuadah, Rifa Nadia. 2012. “Apa Pengaruh FB ke Mahasiswa?”. http://www.okezone.com/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Panji, Aditya, & Reza Wahyudi. 2012. “Indonesia Masuk 10 Besar Penyumbang “Cyber Crime” Terbanyak”. http://tekno.kompas.com/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Ridhotulloh, M Dindien. 2008. “Berebut Pasar Wireless Broadband”. http://m.inilah.com/. (Diakses pada Rabu, 16 Mei 2012).

Mau berlangganan artikel ? masukan nama dan email anda

2 komentar tentang “Internet For Students, Internet For Young People”

Leave a Reply

Komunitas ICI
Situbondo - Jawa Timur - Indonesia
Hubungi Kami: 0823-0234-0456
Copyright © 2009-2015
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better