Home » Artikel Internet Cerdas » Internet dalam Darahku

Internet dalam Darahku

Jun
26
2012
by : Team Internet Cerdas . Posted in : Artikel Internet Cerdas

Internet dalam Darahku

(oleh:Sastra Noor Qalam)

Perjalananku mengenal suatu dimensi yang perlahan memasuki tabir kehidupan

Bahkan tiap desiran darahku mengalir pecahan dimensinya.

Juga sebuah media dimana karya-karyaku lahir dari rahim inspirasi.

Itulah mengapa ku sebut internet seolah berada dalam darahku.


Siapa yang sih yang gak kenal internet? Interconnection Networking yang merupakan sistem global dari seluruh jaringan komputer yang terhubung ini semakin di sorot tajam oleh dunia. Membuat orang betah berjam-jam melototi monitor mungil, membuat orang rela mengorbankan sesuatu untuk tujuan tertentu. Dari dunia Megalitikum sampai dunia antariksa, semua di bincangkan. Informasi seolah menjelma menjadi ikan-ikan yang siap di jaring oleh para user yang berselancar di lautan protokol.

Mencari lembaran uang di internet juga di jadikan suatu dunia yang tak terlewatkan bagi para peselancar. Banyak modus dan metode yang terhimpun. Forum-forum meluas bak dirgantara yang dinamis, tak kenal ras, bangsa dan warna kulit. Internet mempersatukan yang terberai, mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat.  Semua terakumulasi dalam satu wadah yang sama. Jikalau koneksi mati aku serasa tak bernafas. So? Koneksikan, lalu berselancar.

Seperti kehidupan biasanya. Ada kegelapan dan cahaya. Dalam dunia maya, sisi kegelapan yang tak asing lagi kita sebut Cracker dan Hacker. Ada pula sisi cahaya yang kita tahu sebagai departemen lembaga pertahanan yang berpusat di Amerika, US Department of Defense. US Department of Defense yang pada awalnya dibentuk untuk keperluan militer dan mengatasi permasalahan serangan nuklir sekarang berevolusi menjadi media sosial dan lautan informasi. Beragam terminal jaringan terkonstelasi, beragam karsa dari para user bervariasi. Menjadikan internet sebuah dimensi dengan wahana yang tak terbatas. Membuat para manusia terbungkam sembari retinanya tercengkram oleh kedahsyatan dimensi internet.

Para peselancar berbondong-bondong mengarungi lautan informasi, salah satunya aku, peselancar amatir yang hanya ingin memamerkan karya artistik kepada dunia. Awal ku kenal internet di mulai dari dunia game online, Ragnarok Online. Satu tahun penuh aku berkecibung dalam dunia game, hingga akhirnya tersadarkan bahwa akar dari game online adalah internet.

Situs yang ku kenal sekaligus sering ku buka pertama adalah Google. Google seperti jantungnya internet. Sebuah jembatan yang sering di lewati para peselancar untuk menuju ke sebuah terminal yang di inginkan. Sebuah warper yang menarik kita pada dunia. Dari informasi, gambar dan peta dunia. Siapa sangka? Aku pun adalah backpacker di Google Map! Paris? Newyork? London? Semua ku jelajahi hanya dengan menggerakan kursor.

Dalam imajiku yang tumpah, ingin sekali substansi atomku menyatu dengan substansi  jaringan matriks internet sehingga aku tersedot masuk dalam dunia internet yang sesungguhnya. Darah, denyut nadi dan kulitku seolah adalah substansi data skrip. Hiperbolis kah?

Setelah Google, tak sedikit aku mengenal terminal-terminal yang buruk dari rekomendasian temanku. Kemudian beralihlah aku menuju situs media sosial pertama kali yang kusinggahi, Friendster yang tak lama kemudian di susul Facebook dan Twitter. Media sosial ini sering ku jadikan ajang tumpahan inspirasiku. Dan akhirnya beragam jenis terminal sudah ku jelajahi.

Semua tak lepas dari yang namanya ‘unduh-unggah’, kosakata yang berasal dari Jawa ini menjadi fitur yang di cari oleh para peselancar. Butuh gumpalan data yang bisa di akses tanpa harus terkoneksi internet, tinggal unduh! Ingin mencelupkan data ke lautan internet, tinggal unggah! Masih banyak juga fitur-fitur canggih yang di sediakan. Menambah para peselancar betah mengembara di luasnya samudera internet ini. Tak aneh, internet memang di suguhkan untuk berbagai umur. Dari yang langsung keluar dari rahim hingga yang menuju sakaratul maut tidak di larang mengakses internet. Tapi pertanyaan yang utama adalah bagaimana menggunakan internet secara cerdas? Selang beberapa tahun jawabannya ku temukan setelah mengalami beberapa fase metamorfosis dalam diriku. Tahap pendewasaan dimana jati diri ku ciptakan. Potensi menyeruak keluar dalam diriku sehingga ku tumpahkan lewat internet.


Lumpur Kegelapan

Sebelum aku menemukan jawaban itu, aku sempat bermain dalam lumpur kegelapan. Ya! Menjadi cracker amatir yang nakal. Bermain dengan skrip-skrip untuk mengotori data di warung internet, melucuti pertahanan komputer dengan virus cacing yang menggeliat di lambung Hardisk sembari menunggangi virus Kuda Troya atau Trojan Horse. Tak jarang juga Anti-virus memerangi paradigma kotorku ini. Selain itu, mengutak-atik bandwidth di laboraturium komputer sekolah membuatku tak pernah puas mengubah kecepatan koneksi internet. Atau langsung saja ku putuskan jaringannya dengan Netcut.

Orang-orang menyebutku cracker karena itu adalah sebutan untuk orang yang ingin mencari kelemahan sistem dan memasukinya. Beda dengan Hacker yang memberikan sumbangan yang bermanfaat untuk dunia jaringan dan sistem operasi. Tapi bisa juga dikaitkan pekerjaan yang mencari kelemahan sistem juga. Sehingga orang-orang mempunyai kesan negatif dengan kata Hacker dan Cracker.

Sangat disarankan untuk memproteksikan komputer dan membaca informasi tentang internet sebelum berselancar sehingga tak menjadi sasaran empuk para Cracker. Gak mau kan data-data berharganya lenyap begitu aja? Seperti di jalan raya, selama mengikuti rambu lalu lintas niscaya kita akan aman. Tak beda jauh dengan aturan di internet, bukan?

Jika mengembara yang kita butuhkan adalah tas, karena tas itu begitu penting untuk menyimpan sesuatu. Nah! Tas disini adalah yahoo! Di ibaratkan semua data yang ingin kita simpan permanen maupun temporer bisa kita simpan di yahoo.

Aku bersih dari lumpur kegelapan setelah mengenal dunia desain grafis. Lewat internetlah aku berselancar menjaring ilmu desain grafis sehingga sekarang aku berani menampilkan karya editing foto-foto. Jadilah aku seorang desain grafis. Internet memberiku pemahaman yang cukup mendalam. Memberiku suatu wadah pula untuk menampilkan karya artistikku. Tak hanya hasil editing foto, rekaman rap-ku menggenang di internet sehingga menjadi ajang promosi.

Andai aku makhluk yang tak butuh tidur, aku ingin terus berkarya. Dan internet inilah menjadi salah satu wadah yang tiada habisnya di jamah para peselancar. Di kampus, internet pun di jadikan tempat untuk ujian atau biasa disebut Ujian Online. Sangat luas cakupan internet jika di telaah lebih dalam lagi dari segi fungsi. Tapi tak jarang juga mata kriminal menyorot tajam dunia ini sehingga banyak penjahat-penjahat berkedok memburu mangsa yang sedang lengah. Di tambah dunia pornografi yang merajalela membuat akidah akhlak runtuh. Penggunaan internet yang cerdas berawal dari niat yang cerdas dengan di dasari aspek positif. Karena itulah kita selalu di suguhi pilihan. Internet hanya suatu wadah, yang mengendalikan adalah kita. So, be the good guy or the bad guy?

Asmara

Bicara soal cinta seperti jiwa tanpa raga. Jangan salah! Internet juga dijadikan cari jodoh. Lewat situs media sosial tak sedikit yang memulai kisah percintaan lewat internet. Salah satunya aku. Bertemu di internet, saling cinta, jenuh, putus lalu saling benci. Begitulah kehidupan cinta anak muda yang miris. Rotasi yang tak pernah selesai. Apalagi lewat fitur ‘tulis status’ yang di jadikan tempat mencurahkan perasaan. Tak aneh, pada zaman nabi Muhammad yang belum ada keyboard, Alquran yang suci sudah membicarakan fenomena media sosial di internet. Masa sih? Gak percaya? Kaji saja surah Al-Ma’rij ayat sembilan belas…

“‘Sungguh, manusia diciptakan bersifat suka mengeluh. Apabila dia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah…”

Itulah fenomena yang sangat seringkali terjadi di situs media sosial, isinya keluh kesah mereka. Maha Benar Allah bersama firman-Nya.

Internet tak hanya di dalam darahku saja, tapi yang lain. Ini berarti internet sudah menjadi suatu kebutuhan yang harus di penuhi. Seperti makan! Memang terkesan hiperbolis namun realita kehidupan sekarang menggambarkan begitu, bukan?

Akhir-akhir ini internet ku jadikan ember yang kupenuhi dengan syair-syairku. Terkadang ketika peluru stress sentak meledakkan kepalaku, darahnya muncrat kemana-mana. Ke status facebook, twitter, blog dan lain-lain. Ya! Darahku adalah inspirasi yang merentet di urat nadi. Lalu internet menari di dalamnya. Mungkin hingga malaikat sakaratul maut menjemput internet tetap menjadi kekasih setiaku.

Pekerjaanku pun tak luput dari internet. Dalam forex yang kita kenal perdagangan komoditas barang internasional yang dirangkum menjadi sebuah pergerakan grafik dan membutuhkan internet, disitulah aku berkecibung. Setiap masuk grafik pasar, butuh internet. Setiap membutuhkan berita fundamental, butuh internet. Informasi lomba, butuh internet. Hiburan, internet. Semua tak lepas dari cengkraman dunia maya. Menggunakan internet secara cerdas kini menjadi solusi buatku. Solusi untuk menumpahkan inspirasi. Internet menjadi jembatan untukku menuju ke beragam cakrawala. Selama di dasari aspek positif, internet menjadi wadah edukasi yang cerdas.

“Jika aku berselancar dalam dunia internet, maka internet berselancar dalam duniaku”

Mau berlangganan artikel ? masukan nama dan email anda

Leave a Reply

Komunitas ICI
Situbondo - Jawa Timur - Indonesia
Hubungi Kami: 0823-0234-0456
Copyright © 2009-2015
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better