Home » Artikel Internet Cerdas » 30 Artikel Favorit » Berikan Reinforcement yang Tepat

Berikan Reinforcement yang Tepat

Jun
26
2012
by : Team Internet Cerdas . Posted in : 30 Artikel Favorit, Artikel Internet Cerdas

Berikan Reinforcement yang Tepat

(oleh:Ni Putu Deanitha Rizki Awalia)

“Perilaku yang diikuti oleh stimulus penggugah akan memperbesar kemungkinan       dilaukannya kembali perilaku tersebut di masa-masa berikutnya. Perilaku yang tidak diikuti oleh stimulus – stimulus penggugah memperkecil kemungkinan dilakukannya kembali perilaku tersebut di masa – masa berikutnya.” (Ketentuan Penggugah dari teori B.F Skinner)

Internet telah memberikan dampak besar dalam proses belajar saya.

Di dalam proses pendidikan formal,  internet telah mengantarkan saya menemukan banyak referensi untuk setiap tugas dan materi-materi perkuliahan. Internet telah menjadi perpustakaan untuk menemukan banyak hal baru dan literatur dalam proses menambah ilmu dan pengetahuan.

Dalam proses belajar informal pun internet banyak memberi kemudahan untuk menyalurkan hobi menulis yang saya tekuni, hingga bersosialisasi dengan banyak orang tanpa harus dibatasi oleh ruang dan waktu. Namun, sama seperti dua sisi koin yang tidak dapat dipisahkan, selain memiliki dampak positif, internet juga memiliki beberapa kelemahan yang harus diperhatikan para penggunanya.

Di dalam tulisan ini, ada sebuah pengalaman terkait bagaimana kita dapat bersosialisasi di dunia maya dengan tepat. Dalam keseharian, saya aktif dalam sebuah organisasi di kampus sebagai salah satu admin di sebuah grup dan page facebook organisasi tersebut. Hal ini secara tidak langsung “memaksa” saya untuk tetap online sesering mungkin. Selain karena memang telah menjadi tanggung jawab dan komitmen yang harus dijalani, hal ini juga dimaksudkan untuk “menghidupkan” grup yang dikelola agar apa yang telah dijalankan tidak sekedar menjadi formalitas dalam menjalankan program yang ada.

Di sela-sela tugas, seringkali saya memanfaatkan waktu luang untuk sekedar berjalan-jalan di salah satu jejaring sosial tersebut. Saya suka mencari kabar-kabar terbaru dari teman-teman saya melalui status yang mereka buat. Facebook sendiri seperti telah menjadi diary online bagi para penggunanya. Perasaan bahagia, sedih, gundah gulana, marah, semua bisa dilihat dengan sangat jelas melalui rangkaian kata yang mereka ungkapkan disana.

Saat tengah asik menikmati petualangan, tiba-tiba ada salah satu teman yang mengirimkan pesan singkat kepada saya. Dia meminta agar saya mau memberikan jempol di status yang baru saja dibuatnya. Tanpa memberikan balasan terlebih dahulu, saya segera menuju halaman profilnya. Setelah membaca, ternyata itu merupaka luapan amarahnya terhadap seseorang. Ada beberapa kata yang kurang tepat dituliskan dalam media yang dapat dibaca oleh orang lain.

Mengingat dia adalah salah satu dari teman dekat, sepertinya ada rasa bersalah jika tidak menanggapinya. Segera saya mengarahkan kursor untuk menemuinya di chat room. Dengan nada bencanda, saya katakan padanya bahwa jempol hanya diberikan untuk status yang berkualitas. Dia pun mengeluhkan sikap pelit jempol ini. Kesannya hak memberikan jempol di facebook sangat mahal. Saya kembali membalasnya. Bukankah jempol saya memang sangat berharga? Jika tidak demikian, dia tidak mungkin memintanya. Benarkan?

Pengalaman serupa tidak hanya terjadi sekali. Ada beberapa kejadian teman facebook berkunjung ke profil untuk memberikan jempol pada status yang saya buat dengan meninggalkan pesan di kolom komentar, kemudian meninggalkan pesan untuk melakukan hal yang sama pada statusnya. Saya tidak menanggapinya, bukan karena tidak menghargai jerih payahnya menyumbangkan sebuah jempol, hanya saja saya pernah belajar sesuatu dari hal ini.

Tidak bisa dipungkiri bahwa setiap orang mengharapkan apresiasi atau pun respon dari apa yang dibuatnya. Saya juga demikian. Setiap kali memperbaharui status, harapan untuk disukai dan dikomentari selalu ada. Namun suatu ketika, saat sedang mengikuti perkuliahan, saya ditegur oleh sebuah materi yang diberikan oleh seorang dosen.

Kala itu, kami belajar tentang teori behavioristik. Teori ini menjelaskan tentang perilaku yang tampak sebagai hasil belajar. Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon.

Stimulus adalah segala sesuatu yang diberikan guru kepada pebelajar, sedangkan respon berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Dengan kata lain, dapat pula dijelaskan bahwa stimulus merupakan rangsangan yang diberikan untuk mendapatkan tanggapan.

B.F. Skinner, seorang psikolog asal Amerika Serikat yang terkenal dengan teori behaviourism, dalam konteks pembelajaran berpandangan bahwa belajar adalah sebuah proses yang berusaha merubah tingkah laku yang dapat diukur. Skinner kemudian merumuskan terotinya ke dalam tiga komponen, yaitu Discriminative stimulus (SD), Response, Reinforcement (penguatan positif dan negatif).

Reinforcement dapat mengakibatkan perilaku tersebut dipahami secara baik atau menghilangkan beberapa perilaku yang tidak diinginkan. Skinner menjelaskan bahwa perilaku yang diikuti oleh stimulus penggugah akan memperbesar kemungkinan dilakukannya kembali perilaku tersebut di masa mendatang. Sebaliknya, perilaku yang tidak diikuti oleh stimulus penggugah memperkecil kemungkinan dilakukannya kembali perilaku tersebut di waktu berikutnya.

Lalu apa hubungan dari teori ini dengan internet?

Entah mengapa, saat mendapat materi ini, spontan saya menganalogikan bahwa reinforcement sama dengan sikap kita dalam menanggapi aktivitas teman-teman di dunia maya.  Saya menyadari betul bagaimana terlena dalam keadaan dimana ada banyak pihak yang memberikan dukungan dalam setiap kondisi yang saya utarakan baik secara tersurat maupun tersirat di jejaring sosial.

Saat apa yang saya bagikan berhasil mendapat banyak respon, maka yang saya pikirkan adalah bagaimana membuat status lain yang juga akan menuai banyak respon. Bahkan, tidak jarang saya mengadakan observasi sederhana dengan memperhatikan jumlah jempol di setiap posting yang muncul di beranda karena keinginan untuk dapat menarik perhatian banyak orang.

Membayangkan apa yang ada dalam pikiran tersebut juga dirasakan oleh pengguna lainnya, maka saya mulai berandai-anda lagi. Seandainya saja teman-temaan membuat status yang tidak sepatutnya dibuat di jejaring sosial dan dapat dibaca oleh orang banyak, seperti memaki, menstimulus orang lain untuk melakukan hal yang tidak baik dan merugikan pihak-pihak tertentu, kemudian hal tersebut mendapat respon dari banyak orang, bukankah itu dapat menjadi batu sandungan baginya?

Dia mungkin saja akan merasakan bahwa apa yang dilakukannya adalah benar. Buktinya saja ada banyak orang yang mendukungnya. Mungkin juga dia akan beranggapan bahwa dia telah sampai pada zona nyamannya, karena disanalah dia bisa mendapatkan banyak respon dari apa yang dibuatnya. Bukan tidak mungkin, jika di lain waktu dia akan mengulang lagi perbuatannya dengan lebih dashyat lagi. Di lain sisi, ini dapat pula memicu pengguna lain untuk terlibat dalam tindakannya yang kurang tepat, seperti munculnya komentar-komentar yang dapat memperkeruh keadaan. Apakah memang ini tujuan dari adanya jejaring sosial?

Jeajaring sosial sesungguhnya adalah salah satu sekolah yang dapat mengajarkan kita banyak hal. Ada nilai-nilai yang dapat kita petik dan pratikkan yang terkesan sederhana namun sesungguhnya memmberikan dampak yang luar biasa. Misalnya saja, bagaimana menghargai, menjadi lebih peka dan mau peduli terhadap orang lain. Dengan melihat realita yang sering terjadi, terutama adanya penggunaan jejaring sosial yang kurang tepat, wujud kepedulian seperti apakah yang dapat kita lakukan?

Memberikan reinforcement yang tepat mungkin dapat menjadi langkah yang paling sederhana namun memiliki power yang luar biasa. Berikan apresiasi terhadap posting yang sekiranya memang layak untuk mendapatkanya melalui jempol atau meninggalkan komentar yang dapat menstimulus pengguna untuk berbuat lebih lagi.

Sebaliknya, kita perlu bersikap pelit untuk hal-hal yang memang tidak perlu mendapatkan apresiasi. Saat membaca posting yang kurang berkenan di hati, akan lebih baik jika kita tidak terpancing untuk memperkeruh suasana ataupun meninggalkan komentar yang dapat menyakiti pengguna. Dengan ini tidak memberikan respon, setidaknya kita memberikan kesempatan kepada mereka untuk memikirkan kembali apakah yang dibuatnya telah layak untuk mendapatkan apressiasi atau tidak. Hanya itu saja, dan kita telah membantu meciptakan stimulus-stimulus postif bagi orang lain. Tidak sulit, kan?

Mau berlangganan artikel ? masukan nama dan email anda

Leave a Reply

Komunitas ICI
Situbondo - Jawa Timur - Indonesia
Hubungi Kami: 0823-0234-0456
Copyright © 2009-2015
Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better